| » Pendekatan EduFAST |
 |
SMA Bina Putera-Kopo hadir di tengah banyak persoalan yang dihadapi di masayarakat. Mulai dari budaya yang belum menganggap penting sekolah, hingga kondisi ekonomi masyarakat yang miskin. Namun, semua itu bukan hambatan yang hanya bisa dikeluhkan. Semua itu adalah tantangan. Menghadapi semua persoalan itu, SMA Bina Putera-Kopo melakukan proses pendidikan dengan pendekatan yang berbeda. - Menyatukan dunia pendidikan dengan kehidupan nyata
Memperbanyak event-event di sekolah yang melibatkan komunitas sekolah dan masyarakat. Pembelajaran menggunakan pendekatan problem solving. Keterlibatan anak sebagai motivator bagi masyarakat sekitarnya. Melibatkan praktisi sebagai narasumber. Setiap penugasan selalu merupakan proyek interdisipliner untuk membiasakan anak melakukan desain, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan (Project based). - Membangun budaya bangsa yang positif sebagai ruh penyelenggaraan pendidikan
Kemampuan membangun networking (jejaring kerjasama), Harmoni dan empati, Produktif, Enterpreunership dan daya saing secara profesional, Menumbuhkan rasa bangga terhadap potensi Jati diri yang kuat - Melakukan kegiatan pembelajaran yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu
Lama belajar ditentukan oleh kecepatan belajar tiap individu dalam menguasai kompetensi, Tidak kaku dalam menerapkan kebijakan usia peserta didik. Aktivitas pembelajaran tidak terbatas pada ruang kelas - Menjadikan keberagaman sebagai motivasi untuk memupuk kebersamaan
Anak dibiasakan menggunakan referensi / buku yang beragam dalam merumuskan pemikiran. Proses penyelesaian tugas disesuaikan dengan kreativitas anak. Anak tidak diwajibkan berpakaian seragam. Layanan pembelajaran dilakukan secara beragam disesuaikan dengan potensi yang dimiliki setiap siswa. - Memberikan Layanan Pendidikan Bersifat Terbuka
Layanan pendidikan didasarkan pada pemahaman bahwa setiap anak memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Tidak memberlakukan seleksi akademik dalam penerimaan peserta didik, melainkan lebih mengidentifikasi potensi yang dimiliki setiap anak. Biaya pendidikan disesuaikan dengan kemampuan sosial ekonomi keluarga peserta didik | |

 |
 |
 |
Persoalan Kita Hari ini: Matinya Sang Karakter! Oleh: Zulfikri Anas
Sangat menyedihkan!, suatu bangsa yang selama ini masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat yang ramah, santun, toleran, jujur, gotong royong, religius, demokratis, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, ketentraman sebagaimana yang digambarkan dalam falsafah Pancasila tiba-tiba berubah menjadi masyarakat... » selengkapnya
|
|
| |
|  |
|